Menu
 

JAKARTA- Media asing asal Inggris memberitakan seputar fenomena para sosialita, orang kaya, dan kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia.Laman BBC Inggris belum lama ini sempat memberitakan sebuah acara amal yang digelar oleh para sosialita Indonesia di Jakarta.Pada artikel tersebut digambarkan bagaimana para sosialita itu terlihat tertawa bahagia dalam sebuah acara buka puasa bersama anak-anak yatim. Acara tersebut diselenggarakan oleh istri-istri para orang kaya di Indonesia.“Kami mengumpulkan Rp360 juta untuk acara ini,” kata Heidi, salah seorang sosialita yang di tangannya menyelip sebuah tas genggam Gucci.“Kami hanya ingin memberi sedikit kegembiraan dalam hidup kami pada anak-anak kecil ini,” ujarnya lagi.Artikel yang dilansir pada Kamis (31/7/2014) itu kemudian juga mengulas soal acara temu para sosialita yang disebut arisan. Mereka menyebut ini sebagai salah satu budaya di Indonesia, terutama untuk orang-orang kaya.Seorang sosialita bernama Wulan dan teman-temannya memiliki kebiasaan ini. Namun tentu saja, arisan para sosialita berbeda dengan arisan warga kebanyakan.“Kami mengumpulkan uang dari masing-masing anggota tiap bulannya. Kemudian ketika nama kamu keluar diundi, kamu menang,” kata Wulan menjelaskan.“Untuk per bulannya, iuran ditarik mulai dari Rp1 juta hingga Rp100 juta. Jika menang, tiap anggota bisa membawa pulang 100 ribu dolar AS (atau sekitar Rp1,1 miliar),” ujarnya.Jumlah tersebut tentu sangat besar, terutama untuk sebuah negara yang upah minimum untuk para pekerjanya hanya sekitar Rp2,5 juta.Selanjutnya, artikel dalam laman tersebut menceritakan tentang kebiasaan para sosialita yang senang memakai tas bermerek dengan harga supermahal.Para sosialita ini punya kesamaan. Mereka selalu mengenakan baju bagus, sepatu hak tinggi, dan tas mahal. Para sosialita itu selalu terlihat membawa tas bermerek paling trendi dan paling mahal, bahkan senilai ribuan dolar AS.“Para wanita ini suka membeli Hermes, Chanel, atau Louis Vuitton,” kata Dini Indira, chief executive dari Butterfly Republic. Dia membeli, menjual, hingga menyewakan sejumlah tas bermerek yang mahal.“Tas-tas saya bisa bernilai seharga 1000 dolar AS hingga 6000 dolar AS, bahkan ada yang seharga 50.000 dolar AS,” katanya.“Saya tahu harga itu sepertinya sangat ekstravaganza. Tapi tas bermerek bukan sekadar barang mewah bagi mereka. Itu merupakan sebuah status simbol,” jelasnya.“Kita bisa saja membeli mobil atau rumah yang layak di Jakarta dengan harga segitu, dan kadang-kadang itu tidak masuk akal buat saya. Kenapa mereka mau mengeluarkan uang sebanyak itu, tapi nyatanya mereka mau. Itu bagus untuk bisnis saja,” kata Dini.Bukan hanya barang-barang bermerek saja yang kini ‘mewabah’ di Jakarta, tapi juga mobil-mobil mewah. Mobil-mobil sport seperti Ferrari dan Lamborghini sepertinya sudah tidak asing lagi di Ibu Kota.“Di kota besar seperti ini, menjaga gaya hidup tampaknya sangat penting bagi para profesional muda. Memiliki mobil mahal merupakan tren dari grup ini. Ketika kamu masuk ke dalam komunitas ini, maka kamu harus mengikuti gaya hidup seperti itu,” kata Johnson Yaptonaga, pemilik showroom Lamborghini kepada BBC.Hal ini tentu sangat berbeda jika Anda melirik ke sisi lain Jakarta, di mana masih banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.Misalnya saja Rohma yang hidup di daerah kumuh sekitar rel kereta, yang letaknya hanya beberapa kilometer dari studio tas mewah milik Dini Indira.Harga termurah di studio Dini bisa membiayai sewa rumah Rohma selama setahun. Sementara dia saat ini tinggal di sebuah petak kecil bersama suami dan tujuh anaknya.“Suami saya sebelumnya bekerja sebagai sopir taksi, tapi sekarang dia bekerja apa saja yang bisa dilakukan. Saya tidak bisa melihat masa depan yang bagus buat kami, karena suami saya hanya bekerja sesekali,” tuturnya.Cerita Rohma bukan sesuatu yang unik di Indonesia, karena dua pertiga populasi di Indonesia hidup hanya dengan dua dolar AS atau sekitar Rp23.000 sehari.Kehidupan masyarakat kaya di Indonesia memang terus berkembang. Mereka memupuk kekayaannya hingga terus-menerus bertambah banyak. Namun sayang, kesenjangan antara si kaya dan si miskin pun makin jelas terlihat. (Kabar24.com)
Jibiphoto
Ilustrasi-Gaya para sosialita di acara Car Free Day Solo

sumber

Posting Komentar

 
Top